Rabu, 09 September 2015

Kabut dan Kesehatan


Akibat Kabut Asap Bagi Kesehatan

Secara umum kabut asap dapat mengganggu kesehatan semua orang, baik yang dalam kondisi sehat maupun dalam kondisi sakit. Pada kondisi kesehatan tertentu, orang akan menjadi lebih mudah mengalami gannguan kesehatan akibat kabut asap dibandingkan orang lain, khususnya pada orang dengan gangguan paru dan jantung, lansia, dan anak-anak




Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sekitar Sumatera Selatan dan Kalimantan sudah dalam kondisi mengkhawatirkan dan merugikan. Tak hanya berdampak buruk bagi lingkungan, kabut asap juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan. Dampak langsung yang akan dirasakan adalah infeksi paru dan saluran napas. Kabut asap dapat menyebabkan iritasi lokal pada selaput lendir di hidung, mulut dan tenggorokan. Kemudian juga menyebabkan reaksi alergi, peradangan, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

Dr Yuli Doris Memy Sp THT (K), spesialis THT Rumah Sakit Dr Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang mengatakan, udara yang tidak segar seperti terjadi kabut asap bisa menyebabkan saluran nafas atas hidung dan tenggorok mengiritasi. Bahkan jika ada alergi penyakit bisa kembali terjangkit.

"Misalnya rinitis alergi atau pilek karena alergi, untuk kita yang non alergi, kabut asap ini juga dapat mengiritasi selaput lendir/ mukosa sepanjang sal nafas atas. kalo mukosa itu terganggu, akan mudah terserang kuman penyebab batuk dan pilek," ungkapnya
.
Selain itu, dampak langsung dari terjadinya kabut asap adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang merupakan infeksi parah pada bagian sinus, tenggorokan, saluran udara, atau paru-paru. Infeksi yang terjadi lebih sering disebabkan oleh virus meski bakteri juga bisa menyebabkan kondisi ini.
Kondisi ini menyebabkan fungsi pernapasan menjadi terganggu. Jika tidak segera ditangani, ISPA dapat menyebar ke seluruh sistem pernapasan tubuh. Tubuh tidak bisa mendapatkan cukup oksigen karena infeksi yang terjadi dan kondisi ini bisa berakibat fatal, bahkan mungkin mematikan.

"ISPA harus dianggap sebagai kondisi darurat, jika mencurigai terjadinya serangan ISPA, segera cari bantuan medis," katanya. Kondisi ini berpotensi menyebar dari orang ke orang. Bagi yang mengalami kelainan sistem kekebalan tubuh dan juga orang yang lanjut usia akan lebih mudah terserang penyakit ini. Terlebih lagi pada anak-anak, di mana sistem kekebalan tubuh belum terbentuk sepenuhnya.
Seseorang bisa tertular infeksi saluran pernapasan akut ketika orang tersebut menghirup udara yang mengandung virus atau bakteri. Virus atau bakteri ini dikeluarkan oleh penderita infeksi saluran pernapasan melalui bersin atau ketika batuk
.
Selain itu, cairan mengandung virus atau bakteri yang menempel pada permukaan benda bisa menular ke orang lain saat mereka menyentuhnya. Ini disebut sebagai penularan secara tidak langsung. "Untuk menghindari penyebaran virus maupun bakteri, sebaiknya mencuci tangan secara teratur terutama setelah melakukan aktivitas di tempat umum," pungkasnya
.
Untuk mencegah efek buruk tersebut, masyarakat dihiimbau agar yang telah memiliki penyakit kronik dan gangguan pernapasan untuk mengurangi intensitas  ke luar rumah. Selalu gunakan masker yang baik jika berada di luar rumah dan juga jangan lupa untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
(irma+suhaimi@rsmh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar