Kamis, 04 Juli 2019

ANAK ADALAH HARAPAN BANGSA


ANAK ADALAH HARAPAN BANGSA

(oleh Dr. Risma Rini, Sp.A (K)

Disampaikan oleh Dr. Risma Rini, Sp.A (K), pada Talkshow Kesehatan Interaktif, kerjasama RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dengan Stasiun Televisi Sriwijaya TV Palembang, pada tanggal 22 Juni 2019.

Anak adalah harapan orang tua. Anak adalah generasi penerus bagi bangsa dan negara. Setiap orang tua pasti mendambakan anak yang sehat, kuat dan cerdas sebagai generasi penerus. Bagaimana kondisi anak-anak Indonesia sekarang ini ?

Masalah anak di Indonesia sekarang masih mengenai angka kematian bayi yang tinggi. Angka kematian bayi di Indonesia masih 28 permil. Artinya dari 1000 bayi yang lahir hidup ada 28 bayi yang meninggal sebelum merayakan ulang tahun pertamanya. Angka ini belum mencapai target Pemerintah yaitu 24 permil, dan masih lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi di negara-negara lain bahkan bila dibandingkan dengan sesama negara Asia tenggara yang lain.

Apa saja yang menjadi penyebab kematian bayi tsb?
Sekitar 30% dari penyebab kematian tsb berkait dengan keadaan pada bayi baru lahir seperti kelahiran prematur, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan berat badan kurang dari 2.000 gram, dan kelainan bawaan yang berat seperti anensensefali, gastroschizis, atresia ani serta kelainan jantung bawaan.

Penyebab lainnya adalah penyakit infeksi, seperti diare, pnemonia, campak, malaria, demam berdarah, meningitis  dan tetanus.
Umumnya kematian akibat penyakit tsb berhubungan dengan status gizi anak yang kurang atau buruk.
Sebagai generasi penerus diharapkan semua anak dapat menjadi orang dewasa yang berkualitas. Sementara kualitas seseorang ditentukan bagaimana proses tumbuh kembangnya selama masa kanak-kanaknya.

Di Indonesia masih banyak anak yang  mengalami gangguan pertumbuhan berupa gizi kurang bahkan sampai gizi buruk. Sekitar 37% anak tergolong pendek sebagai akibat kurang gizi yang berlangsung kronis. Keadaan ini berkaitan dengan kemiskinan dan ketidak tahuan orang tua mengenai makanan yang bergizi, tidak memberikan ASI secara eksklusif pada anak-anaknya dan tidak memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang cukup dengan komposisi yang lengkap dan seimbang.

Disamping itu masih tingginya kejadian penyakit kronis  seperti Tbc paru, kelainan jantung bawaan, penyakit ginjal dan keganasan juga ikut berperan.
Sekitar 5% anak mengalami gangguan perkembangan.
Yang paling banyak adalah gangguan bicara. Anak-anak tidak bisa berbicara sesuai usia.
Keadaan ini terjadi karena anak mengalami gangguan pendengaran baik karena faktor keturunan, tetapi lebih banyak lagi sebagai akibat dari berbagai keadaan pada waktu baru lahir, seperti kelahiran prematur , BBLR, asfiksia, dan infeksi selama masa neonatal, termasuk penggunaan alat-alat bantu selama perawatan intensif.

Di zaman modern sekarang ini penyebab terbanyak anak mengalami gangguan bicara adalah kurangnya stimulasi  dari orang tua. Kebanyakan orang tua memberikan  media elektronik seperti TV, gadget, dan HP untuk permainan anak mereka. Media ini tidak memberikan komunikasi 2 arah sehingga anak terlibat dalam komunikasi, apa lagi bila isi tontonan tidak sesuai dengan usia anak dan disampaikan dalam bahasa asing maka anak akan terlambat untuk memahami maupun mengeluarkan kata-kata, bahkan banyak sekali anak yang mengeluarkan kata- kata yang tidak bisa dipahami apa artinya.

Gangguan perkembangan berikutnya adalah gangguan motorik, anak terlambat tengkurap, duduk, merangkak maupun berjalan. Keadaan bisa terjadi karena adanya kelumpuhan otak sebagai akibat kondisi selama kehamilan, persalinan maupun setelah persalinan. Ibu-ibu hamil yang mengalami hipertensi, hiper ataupun hipotiroid, dan infeksi TORCH merupakan penyebab yang sering ditemukan. Kondisi selama persalinan seperti kelahiran prematur, BBLR, asfiksia, gangguan nafas dan infeksi selama masa bayi. Kebanyakan anak2 yang mengalami kejang dan penurunan kesadaran karena infeksi pada otak dan selaput otak juga sering mengakibatkan kelumpuhan otak yang dikenal dengan Palsy Cerebralis. Keterlambatan motorik juga bisa disebabkan oleh sindroma Down dan hipotiroid. Anak2 dengan gizi buruk juga sering mengalami keterlambatan motorik karena otot2 yang lemah dan kurangnya tenanga akibat asupan nutrisi yang kurang. Beberapa anak mengalami keterlambatan motorik karena kurang distimulasi  karena banyak digendong, tidak dibiarkan bermain bebas dilantai, atau anak yang terlalu gemuk sehingga membatasi gerakan badannya.

Gangguan perilaku pada anak seperti autis dan hiperaktif sering terlambat terdeteksi karena sering dianggap sebagai perkembangan anak normal yang belum mengerti. Padahal kelainan ini akan berdampak terhadap sosialisasi dan kesiapan belajar anak. Begitu juga gangguan kognisi, sering kali baru terdeteksi setelah anak masuk sekolah.
Kesemua gangguan ini seharusnya dapat dideteksi sedini mungkin, sebelum usia 2 tahun, usia dimana otak sedang berkembang dengan pesat sehingga prognosisnya akan lebih baik.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini?
Pertama lakukan usaha pencegahan seperti :
-  Perbaikan gizi ibu sebelum hamil
-  Lakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur kepada petugas kesehatan.
-  Persalinan dibantu oleh petugas kesehatan yang kompeten.
- Berikan ASI secara eksklusif, dan pemberian MPASI setelah usia 6 bulan dengan tetap meneruskan pemberian ASI sampai usia 2 tahun.
-  Berikan makan dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang.
-  Berikan imunisasi sampai lengkap
-  Berikan stimulasi kepada anak sesuai umur dan kemampuannya.
- Lakukan pemeriksaan berat badan, tinggi badan, lingkaran kepala dan perkembangan anak secara berkala agar semua kelainan bisa terdeteksi secara dini.
Bila dari pemeriksaan ditemukan gangguan segera  rujuk ke dokter spesialis anak untuk diberikan pengobatan yang sesuai.

Salam IP3H (Tika PKRS)

1 komentar: