Minggu, 15 Desember 2019

Hidup berdampingan dengan penderita HIV/AIDS




Yenny Dian Andayani
Divisi Hematologi Onkologi Medik , Dep Penyakit Dalam
RSMH/FK Unsri Palembang


Virus HIV  adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Angka kejadian infeksi HIV dari tahun ketahun semakin  meningkat .  Menurut WHO diperkirakan diseluruh dunia lebih dari 40 juta ditemukan kasus dengan HIV dimana paling banyak ditemukan di Benua  Afrika dengan angka kematian akibat penyakit ini sebanyak 770.000 jiwa., hanya 62 % yang telah mendapat pengobatan. Data di Indonesia sampai tahun 2018 ditemukan 640. 443 jiwa penderita HIV/AIDS   dengan kelompok umur terbanyak 20- 49 tahun  yaitu usia produktif. Diskriminasi dan stigma pada masyarakat terhadap penderita HIV  masih menjadi masalah utama dalam menanggulangi penyakit ini. Minimnya pengetahuan cara penularan dan cara mendapatkan akses pengobatan juga menambah permasalahan yang ada.
Banyak mitos yang keliru terhadap penularan virus HIV sehingga penderita HIV sering di jauhi bukan berdasarkan alasan yang tepat. Penularan virus HIV harus berasal dari cairan tubuh berupa darah, sperma yang dapat masuk kedalam tubuh melalui kontak seksual dan penggunaan jarun suntik atau tatto,  pada proses kehamilan, persalinan atau menyusui  dan juga melalui  transfusi darah.
Sejak beberapa tahun yang lalu pemerintah telah mencanangkan program Test and Treat yaitu program temukan yang positif pada pasien IMS, pasien TB, ibu hamil, hepatitis, pasangan odha, penasun, WPS, waria dan pasangannya,  melalui obat yang positif dan kemudian pertahankan yang diobati  dengan konseling adherence, pemberian ARV dan yang paling penting peran komunitas dan keluarga. Kepatuhan berobat sangat penting karena sangat berhubungan dengan kwalitas hidup. Obat-obatan Anti Retro Viral yang diberikan jangka panjang dan harus diminum setiap hari. Peran keluarga dan komunitas sangat penting untuk memantau pengobatan yang sedang dilakukan .
Layanan komprehensif  HIV yang berkesinambungan, peran aktif komunitas, sistem rujukan dan jejaring kerja yang baik, akses layanan terjamin  dapat membantu ODHA dan keluarga untuk mendapat  pengobatan yang baik.

Disamping itu stigma dan diskrimasi yang harus di hilangkan dapat melalui bantuan :
  • Pemerintah ( Dukungan terhadap kebijakan  dan advokasi kepada yang berkepentingan,dll)
  •  Masyarakat ( Pendidikan dan pelatihan HIV/AIDS, kemitraan masyarakat, keterlibatan ODHA)
  • Program ( Melalui layanan KIA, integrasi PMTCT,  pelayanan VCT)

Dengan cara cara diatas kita dapat mengatasi stigma  dan diskriminasi terhadap HIV/AIDS.

Pemberian informasi yang BENAR dan LENGKAP dan berperan serta aktif dalam upaya penanggulangan HIV merupakan cara yang baik untuk mengatasi diskriminasi dan stigma terhadap pasien HIV/AIDS.
Tema Hari AIDS sedunia  tahun 2019 adalah “ COMMUNITIES MAKE THE DIFFERENCE “. Peran komunitas pekerja kesehatan dalam mendorong penderita HIV/AIDS untuk mendapatkan akses pengobatan yang baik sehingga sampai tahun 2019 sudah 62 % ODHA mendapat layanan ARV.dimana peran dari komunitas sangat penting agar supaya masyarakat benar-benar memahami dan tidak percaya terhadap mitos-mitos keliru seputar HIV/AIDS.

Leni/PKRS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar