Selasa, 15 November 2016

SNOEZELLEN




SNOEZELLEN

Pelayanan  Rehabilitasi Medik di RSUP Dr.Mohammad Hoesin sudah dimulai sejak tahun 1976, dan kini sudah semakin berkembang sesuai dengan perkembangan RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang .
Dalam memberikan pelayanan Rehabilitasi medik  bekerja  dalam satu tim yang terdiri dari Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik atau dokter umum yang mempunyai kemampuan dalam pelayanan  Rehabilitasi Medik, Fisioterapis,  Terapis Okupasi, Ortotik & Prostetik, Terapis Wicara, dan petugas tata usaha. Kasus –kasus yang memerlukan pelayanan Rehabilitasi Medik meliputi gangguan Muskuloskeletal, Neuromuskular, Pediatrik, Geriatrik, Kardiorespirasi dan cidera olah raga. Adapun bentuk pelayanan berupa pelayanan rawat jalan dan pelayanan rawat inap .
Pelayanan Unggulan Instalasi Rehabilitasi Medik Terdiri dari 2 Pelayanan :
a.     Pelayanan Hydroterapi
b.     Pelayanan Snoezellen
2 Pelayanan ini merupakan satu-satunya pelayanan yang ada di wilayah Sumatera Selatan bahkan yang pertama di  Sumatera. 
Apa itu Snoezellen? 
Snoezellen adalah suatu akfitas yang dilakukan untuk mempengaruhi sistem syaraf pusat melalui pemberian stimulus pada sistem sensori primer seperti visual (penglihatan), auditori (pendengaran), taktil (sentuhan), taste (pengecapan) dan smell (penciuman) serta sistem sensori internal seperti vestibular dan proprioceptif dengan tujuan untuk mencapai relaksasi dan aktifasi. 
Efek terapeutik dari terapi ini adalah : anak dapat menikmati permainan atau beraktifitas, anak rileks secara fisik dan mental, meningkatkan kesadaran anak, merangsang anak untuk berinisiatif dalam melakukan aktifitas dan meningkatkan kepercayaan diri anak. 
Syarat untuk mendapatkan pelayanan ini antara lain , pasien harus mendapat rekomendasi dari dokter, anak tidak sedang sakit (demam,batuk,pilek)  dan datang sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan petugas. 
Pasien yang dapat diberikan pelayanan Snoezellen yaitu pasien anak-anak dengan gangguan ADHD (Attention Defisit Hyperaktif Disorder), Autis Spectrum Disorder, Cerebral Palsy dll. 
Humas#yeri+rita 
Sumber:rehabmedik

Minggu, 13 November 2016

Raja Suntik


Sembilan Tahun Obati Suku Kubu, 
Dipanggil Raja Suntik

Pengabdian dari dr Marta Hendry SpU patut diacungi jempol. Selama sembilan tahun ia mengobati Suku Anak Dalam (SAD) atau lebih dikenal sebagai Suku Kubu di Provinsi Jambi. Bagaimana ceritanya ?!



Tepat pukul 11.00 WIB pada Kamis (10/11) lalu, dokter yang bertugas di RSMH Palembang usai melakukan operasi. “Nanti ya, saya cuci tangan dulu,” katanya sebelum memulai wawancara. Sambil duduk dan beristirahat di Ruangan Bedah RSMH, dr Marta--biasa dirinya disapa--menceritakan pengalamannya yang penuh warna menjadi dokter hingga saat ini.
Diceritakannya, sewaktu masih menjadi dokter umum di Desa Muara Siau, Kabupaten Sarolangun, sekarang menjadi Kabupaten Bangko, saat mengemudi mobil Hardtop, melihat seorang gadis tergeletak di pinggir hutan. Ia pun menghentikan kendaraannya dan turun untuk memeriksa gadis tersebut. Setelah diperiksa, ternyata gadis itu menderita tumor ginjal (wilms). “Saya langsung membawa dan mengobatinya ke puskesmas,” tuturnya.
Dari pengalaman itulah, dr Marta tertarik mengambil spesialis bedah. Pada 2002-2005, ia mengambil spesialis bedah umum di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri). Kemudian, dirinya melanjutkan mengambil spesialis urologi lantaran ditawari dr Didit dan dr Rizal yang juga dari spesialis urologi.
“Saya ingat betul, tawaran itu ketika saya pulang dari musibah tsunami di Aceh,” kenangnya. Untuk mendapatkan spesialis itu tidak mudah. Pertama kali, dirinya mendaftar di Universitas Indonesia (UI). Sayangnya belum lulus. Padahal selama satu tahun dirinya mempersiapkan diri dengan membaca buku urologi.
“Sebenarnya, pertanyaan ujian masuk itu saya jawab semua, tapi mungkin nasib kurang baik,” katanya. Tidak putus asa, suami dari dr Afrimelda MKes ini memilih Universitas Airlangga (Unair) Surabaya untuk mewujudkan menjadi spesialis urologi dari 2006 hingga 2010.
Dia mengaku, banyak kasus yang ditemui selama belajar di RSUD Soetomo Surabaya. Misalnya, kasus seperti penis kejepit di pipa. Pasien tersebut melakukan masturbasi menggunakan pipa ledeng. Uniknya, kejadian tersebut diatasi menggunakan gerindo yang biasa dipakai di bengkel. “Kasus ini saya temui di Surabaya sekali, di Palembang sekali,” ungkapnya sambil tertawa.
Ia juga pernah menangani kasus pasien kelainan jiwa yang memotong penis sendiri. Mungkin, kata dia, pasien mengalami ilusi sehingga yang dilihat seekor ular, makanya pasien memotong. Kejadian itu terjadi dua kali dengan pasien yang sama.
Ia menceritakan, pertama pasien memotong di arah pangkal. Kasus ini masih bisa diatasi dengan cara menyambung. “Ini bisa dilakukan karena pembuluh darah di pangkal besar,” imbuhnya. Dua bulan kemudian, pasien kembali memotong penis di bagian ujung penis. “Ini tidak bisa disambung, hanya bisa diperbaiki,” paparnya.
Ia mengenang, saat masih menjadi dokter di Jambi, banyak pengalaman lain yang tidak

terlupakan. Contohnya, waktu itu dalam perjalanan di hutan, tiba-tiba tali gas mobil putus. dr Marta bersama istri dan anaknya yang masih berusia satu tahun melihat harimau yang lewat di depan mobilnya. “Tidak bisa diungkapkan rasanya melihat harimau berjalan di depan mobil cuma berjarak kurang dari 10 meter,” ungkapnya.
Lebih jauh dikatakannya, menjadi seorang dokter dan bergaul dengan Suku Anak Dalam (SAD) tidaklah sulit. Kunci utama untuk melayani masyarakat tetap diutamakan. Saat itu, ia berprofesi kepala puskesmas yag melayani 34 desa.
Karena kesulitan komunikasi karena medannya yang berat, dirinya memberikan handy talky (HT) kepada 34 petugas di pos masing-masing. Petugas yang di pos selanjutnya berkomunikasi untuk konsultasi keluhan yang dihadapi masyarakat desa tersebut. “Saya juga tetap mengunjungi desa-desa itu. Kalau saya datang, masyarakat memanggil dengan sebutan Raja Suntik,” katanya tertawa.
Puskemas yang dipimpinnya saat itu sudah dilengkapi dengan ruang emergency dan ruang perawatan VIP lengkap dengan peralatannya. “Karena itu, kami mendapatkan penghargaan Abdi Setia Bakti mewakili Provinsi Jambi,” terangnya seraya menambahkan, dirinya bertugas di di Jambi sekitar 9 tahun.
Masih kata pria kelahiran 1 Maret 1968 ini, ada beberapa masyarakat di sana tidak mau berobat ke puskemas. Malah, mereka memilih berkunjung ke rumah. “Dengan setia, mereka (pasien) menunggu saya pulang untuk diobati,” tuturnya.
Apalagi rumah dinasnya bersebelahan dengan puskesmas. Selain itu, dirinya juga tidak memungut bayaran kepada pasien yang berobat di rumah. Ia mengaku, tidak sulit berkomunikasi dengan pasien dari SAD. “Kalau bahasa mereka, saya ngerti sedikit-sedikit,” akunya.
Dari pengabdian ini, bungsu empat saudara ini menerima penghargaan Dokter Teladan Tingkat Provinsi Jambi dari Presiden RI pada 1996. “Waktu itu, presidennya masih Pak Soeharto,” bebernya.
Dia menambahkan, profesi dokter sangat didukung oleh keluarga. Meskipun kedua orang tua dan saudaranya tidak ada yang berprofesi sebagai dokter. Waktu kecil, ada tiga pilihan cita-cita, yakni insinyur, dokter, dan wakil presiden. “Kenapa pilih wakil, soalnya kalau presiden ketinggian. Namun, nasib menjadikan saya sebagai dokter,” pungkasnya sembari tersenyum

Kiki Wulandari – Sumek.Palembang


Pengabdian dari dr Marta Hendry SpU patut diacungi jempol. Selama sembilan tahun ia mengobati Suku Anak Dalam (SAD) atau lebih dikenal sebagai Suku Kubu di Provinsi Jambi. Bagaimana ceritanya?
--------
Kiki Wulandari – Palembang
-------
Tepat pukul 11.00 WIB pada Kamis (10/11) lalu, dokter yang bertugas di RSMH Palembang usai melakukan operasi. “Nanti ya, saya cuci tangan dulu,” katanya sebelum memulai wawancara. Sambil duduk dan beristirahat di Ruangan Bedah RSMH, dr Marta--biasa dirinya disapa--menceritakan pengalamannya yang penuh warna menjadi dokter hingga saat ini.
Diceritakannya, sewaktu masih menjadi dokter umum di Desa Muara Siau, Kabupaten Sarolangun, sekarang menjadi Kabupaten Bangko, saat mengemudi mobil Hardtop, melihat seorang gadis tergeletak di pinggir hutan. Ia pun menghentikan kendaraannya dan turun untuk memeriksa gadis tersebut. Setelah diperiksa, ternyata gadis itu menderita tumor ginjal (wilms). “Saya langsung membawa dan mengobatinya ke puskesmas,” tuturnya.
Dari pengalaman itulah, dr Marta tertarik mengambil spesialis bedah. Pada 2002-2005, ia mengambil spesialis bedah umum di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri). Kemudian, dirinya melanjutkan mengambil spesialis urologi lantaran ditawari dr Didit dan dr Rizal yang juga dari spesialis urologi.
“Saya ingat betul, tawaran itu ketika saya pulang dari musibah tsunami di Aceh,” kenangnya. Untuk mendapatkan spesialis itu tidak mudah. Pertama kali, dirinya mendaftar di Universitas Indonesia (UI). Sayangnya belum lulus. Padahal selama satu tahun dirinya mempersiapkan diri dengan membaca buku urologi.
“Sebenarnya, pertanyaan ujian masuk itu saya jawab semua, tapi mungkin nasib kurang baik,” katanya. Tidak putus asa, suami dari dr Afrimelda MKes ini memilih Universitas Airlangga (Unair) Surabaya untuk mewujudkan menjadi spesialis urologi dari 2006 hingga 2010.
Dia mengaku, banyak kasus yang ditemui selama belajar di RSUD Soetomo Surabaya. Misalnya, kasus seperti penis kejepit di pipa. Pasien tersebut melakukan masturbasi menggunakan pipa ledeng. Uniknya, kejadian tersebut diatasi menggunakan gerindo yang biasa dipakai di bengkel. “Kasus ini saya temui di Surabaya sekali, di Palembang sekali,” ungkapnya sambil tertawa.
Ia juga pernah menangani kasus pasien kelainan jiwa yang memotong penis sendiri. Mungkin, kata dia, pasien mengalami ilusi sehingga yang dilihat seekor ular, makanya pasien memotong. Kejadian itu terjadi dua kali dengan pasien yang sama.
Ia menceritakan, pertama pasien memotong di arah pangkal. Kasus ini masih bisa diatasi dengan cara menyambung. “Ini bisa dilakukan karena pembuluh darah di pangkal besar,” imbuhnya. Dua bulan kemudian, pasien kembali memotong penis di bagian ujung penis. “Ini tidak bisa disambung, hanya bisa diperbaiki,” paparnya.
Ia mengenang, saat masih menjadi dokter di Jambi, banyak pengalaman lain yang tidak 
terlupakan. Contohnya, waktu itu dalam perjalanan di hutan, tiba-tiba tali gas mobil putus. dr Marta bersama istri dan anaknya yang masih berusia satu tahun melihat harimau yang lewat di depan mobilnya. “Tidak bisa diungkapkan rasanya melihat harimau berjalan di depan mobil cuma berjarak kurang dari 10 meter,” ungkapnya.
Lebih jauh dikatakannya, menjadi seorang dokter dan bergaul dengan Suku Anak Dalam (SAD) tidaklah sulit. Kunci utama untuk melayani masyarakat tetap diutamakan. Saat itu, ia berprofesi kepala puskesmas yag melayani 34 desa.
Karena kesulitan komunikasi karena medannya yang berat, dirinya memberikan handy talky (HT) kepada 34 petugas di pos masing-masing. Petugas yang di pos selanjutnya berkomunikasi untuk konsultasi keluhan yang dihadapi masyarakat desa tersebut. “Saya juga tetap mengunjungi desa-desa itu. Kalau saya datang, masyarakat memanggil dengan sebutan Raja Suntik,” katanya tertawa.
Puskemas yang dipimpinnya saat itu sudah dilengkapi dengan ruang emergency dan ruang perawatan VIP lengkap dengan peralatannya. “Karena itu, kami mendapatkan penghargaan Abdi Setia Bakti mewakili Provinsi Jambi,” terangnya seraya menambahkan, dirinya bertugas di di Jambi sekitar 9 tahun.
Masih kata pria kelahiran 1 Maret 1968 ini, ada beberapa masyarakat di sana tidak mau berobat ke puskemas. Malah, mereka memilih berkunjung ke rumah. “Dengan setia, mereka (pasien) menunggu saya pulang untuk diobati,” tuturnya.
Apalagi rumah dinasnya bersebelahan dengan puskesmas. Selain itu, dirinya juga tidak memungut bayaran kepada pasien yang berobat di rumah. Ia mengaku, tidak sulit berkomunikasi dengan pasien dari SAD. “Kalau bahasa mereka, saya ngerti sedikit-sedikit,” akunya.
Dari pengabdian ini, bungsu empat saudara ini menerima penghargaan Dokter Teladan Tingkat Provinsi Jambi dari Presiden RI pada 1996. “Waktu itu, presidennya masih Pak Soeharto,” bebernya.
Dia menambahkan, profesi dokter sangat didukung oleh keluarga. Meskipun kedua orang tua dan saudaranya tidak ada yang berprofesi sebagai dokter. Waktu kecil, ada tiga pilihan cita-cita, yakni insinyur, dokter, dan wakil presiden. “Kenapa pilih wakil, soalnya kalau presiden ketinggian. Namun, nasib menjadikan saya sebagai dokter,” pungkasnya sembari tersenyum
- See more at: http://www.sumeks.co.id/index.php/sumeks/23460-sembilan-tahun-obati-suku-kubu-dipanggil-raja-suntik#sthash.u41mw2iD.dpuf
skemas yang dipimpinnya saat itu sudah dilengk
Pengabdian dari dr Marta Hendry SpU patut diacungi jempol. Selama sembilan tahun ia mengobati Suku Anak Dalam (SAD) atau lebih dikenal sebagai Suku Kubu di Provinsi Jambi. Bagaimana ceritanya?
--------
Kiki Wulandari – Palembang
-------
Tepat pukul 11.00 WIB pada Kamis (10/11) lalu, dokter yang bertugas di RSMH Palembang usai melakukan operasi. “Nanti ya, saya cuci tangan dulu,” katanya sebelum memulai wawancara. Sambil duduk dan beristirahat di Ruangan Bedah RSMH, dr Marta--biasa dirinya disapa--menceritakan pengalamannya yang penuh warna menjadi dokter hingga saat ini.
Diceritakannya, sewaktu masih menjadi dokter umum di Desa Muara Siau, Kabupaten Sarolangun, sekarang menjadi Kabupaten Bangko, saat mengemudi mobil Hardtop, melihat seorang gadis tergeletak di pinggir hutan. Ia pun menghentikan kendaraannya dan turun untuk memeriksa gadis tersebut. Setelah diperiksa, ternyata gadis itu menderita tumor ginjal (wilms). “Saya langsung membawa dan mengobatinya ke puskesmas,” tuturnya.
Dari pengalaman itulah, dr Marta tertarik mengambil spesialis bedah. Pada 2002-2005, ia mengambil spesialis bedah umum di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri). Kemudian, dirinya melanjutkan mengambil spesialis urologi lantaran ditawari dr Didit dan dr Rizal yang juga dari spesialis urologi.
“Saya ingat betul, tawaran itu ketika saya pulang dari musibah tsunami di Aceh,” kenangnya. Untuk mendapatkan spesialis itu tidak mudah. Pertama kali, dirinya mendaftar di Universitas Indonesia (UI). Sayangnya belum lulus. Padahal selama satu tahun dirinya mempersiapkan diri dengan membaca buku urologi.
“Sebenarnya, pertanyaan ujian masuk itu saya jawab semua, tapi mungkin nasib kurang baik,” katanya. Tidak putus asa, suami dari dr Afrimelda MKes ini memilih Universitas Airlangga (Unair) Surabaya untuk mewujudkan menjadi spesialis urologi dari 2006 hingga 2010.
Dia mengaku, banyak kasus yang ditemui selama belajar di RSUD Soetomo Surabaya. Misalnya, kasus seperti penis kejepit di pipa. Pasien tersebut melakukan masturbasi menggunakan pipa ledeng. Uniknya, kejadian tersebut diatasi menggunakan gerindo yang biasa dipakai di bengkel. “Kasus ini saya temui di Surabaya sekali, di Palembang sekali,” ungkapnya sambil tertawa.
Ia juga pernah menangani kasus pasien kelainan jiwa yang memotong penis sendiri. Mungkin, kata dia, pasien mengalami ilusi sehingga yang dilihat seekor ular, makanya pasien memotong. Kejadian itu terjadi dua kali dengan pasien yang sama.
Ia menceritakan, pertama pasien memotong di arah pangkal. Kasus ini masih bisa diatasi dengan cara menyambung. “Ini bisa dilakukan karena pembuluh darah di pangkal besar,” imbuhnya. Dua bulan kemudian, pasien kembali memotong penis di bagian ujung penis. “Ini tidak bisa disambung, hanya bisa diperbaiki,” paparnya.
Ia mengenang, saat masih menjadi dokter di Jambi, banyak pengalaman lain yang tidak 
terlupakan. Contohnya, waktu itu dalam perjalanan di hutan, tiba-tiba tali gas mobil putus. dr Marta bersama istri dan anaknya yang masih berusia satu tahun melihat harimau yang lewat di depan mobilnya. “Tidak bisa diungkapkan rasanya melihat harimau berjalan di depan mobil cuma berjarak kurang dari 10 meter,” ungkapnya.
Lebih jauh dikatakannya, menjadi seorang dokter dan bergaul dengan Suku Anak Dalam (SAD) tidaklah sulit. Kunci utama untuk melayani masyarakat tetap diutamakan. Saat itu, ia berprofesi kepala puskesmas yag melayani 34 desa.
Karena kesulitan komunikasi karena medannya yang berat, dirinya memberikan handy talky (HT) kepada 34 petugas di pos masing-masing. Petugas yang di pos selanjutnya berkomunikasi untuk konsultasi keluhan yang dihadapi masyarakat desa tersebut. “Saya juga tetap mengunjungi desa-desa itu. Kalau saya datang, masyarakat memanggil dengan sebutan Raja Suntik,” katanya tertawa.
Puskemas yang dipimpinnya saat itu sudah dilengkapi dengan ruang emergency dan ruang perawatan VIP lengkap dengan peralatannya. “Karena itu, kami mendapatkan penghargaan Abdi Setia Bakti mewakili Provinsi Jambi,” terangnya seraya menambahkan, dirinya bertugas di di Jambi sekitar 9 tahun.
Masih kata pria kelahiran 1 Maret 1968 ini, ada beberapa masyarakat di sana tidak mau berobat ke puskemas. Malah, mereka memilih berkunjung ke rumah. “Dengan setia, mereka (pasien) menunggu saya pulang untuk diobati,” tuturnya.
Apalagi rumah dinasnya bersebelahan dengan puskesmas. Selain itu, dirinya juga tidak memungut bayaran kepada pasien yang berobat di rumah. Ia mengaku, tidak sulit berkomunikasi dengan pasien dari SAD. “Kalau bahasa mereka, saya ngerti sedikit-sedikit,” akunya.
Dari pengabdian ini, bungsu empat saudara ini menerima penghargaan Dokter Teladan Tingkat Provinsi Jambi dari Presiden RI pada 1996. “Waktu itu, presidennya masih Pak Soeharto,” bebernya.
Dia menambahkan, profesi dokter sangat didukung oleh keluarga. Meskipun kedua orang tua dan saudaranya tidak ada yang berprofesi sebagai dokter. Waktu kecil, ada tiga pilihan cita-cita, yakni insinyur, dokter, dan wakil presiden. “Kenapa pilih wakil, soalnya kalau presiden ketinggian. Namun, nasib menjadikan saya sebagai dokter,” pungkasnya sembari tersenyum
- See more at: http://www.sumeks.co.id/index.php/sumeks/23460-sembilan-tahun-obati-suku-kubu-dipanggil-raja-suntik#sthash.u41mw2iD.dpuf
Pengabdian dari dr Marta Hendry SpU patut diacungi jempol. Selama sembilan tahun ia mengobati Suku Anak Dalam (SAD) atau lebih dikenal sebagai Suku Kubu di Provinsi Jambi. Bagaimana ceritanya?
--------
Kiki Wulandari – Palembang
-------
Tepat pukul 11.00 WIB pada Kamis (10/11) lalu, dokter yang bertugas di RSMH Palembang usai melakukan operasi. “Nanti ya, saya cuci tangan dulu,” katanya sebelum memulai wawancara. Sambil duduk dan beristirahat di Ruangan Bedah RSMH, dr Marta--biasa dirinya disapa--menceritakan pengalamannya yang penuh warna menjadi dokter hingga saat ini.
Diceritakannya, sewaktu masih menjadi dokter umum di Desa Muara Siau, Kabupaten Sarolangun, sekarang menjadi Kabupaten Bangko, saat mengemudi mobil Hardtop, melihat seorang gadis tergeletak di pinggir hutan. Ia pun menghentikan kendaraannya dan turun untuk memeriksa gadis tersebut. Setelah diperiksa, ternyata gadis itu menderita tumor ginjal (wilms). “Saya langsung membawa dan mengobatinya ke puskesmas,” tuturnya.
Dari pengalaman itulah, dr Marta tertarik mengambil spesialis bedah. Pada 2002-2005, ia mengambil spesialis bedah umum di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri). Kemudian, dirinya melanjutkan mengambil spesialis urologi lantaran ditawari dr Didit dan dr Rizal yang juga dari spesialis urologi.
“Saya ingat betul, tawaran itu ketika saya pulang dari musibah tsunami di Aceh,” kenangnya. Untuk mendapatkan spesialis itu tidak mudah. Pertama kali, dirinya mendaftar di Universitas Indonesia (UI). Sayangnya belum lulus. Padahal selama satu tahun dirinya mempersiapkan diri dengan membaca buku urologi.
“Sebenarnya, pertanyaan ujian masuk itu saya jawab semua, tapi mungkin nasib kurang baik,” katanya. Tidak putus asa, suami dari dr Afrimelda MKes ini memilih Universitas Airlangga (Unair) Surabaya untuk mewujudkan menjadi spesialis urologi dari 2006 hingga 2010.
Dia mengaku, banyak kasus yang ditemui selama belajar di RSUD Soetomo Surabaya. Misalnya, kasus seperti penis kejepit di pipa. Pasien tersebut melakukan masturbasi menggunakan pipa ledeng. Uniknya, kejadian tersebut diatasi menggunakan gerindo yang biasa dipakai di bengkel. “Kasus ini saya temui di Surabaya sekali, di Palembang sekali,” ungkapnya sambil tertawa.
Ia juga pernah menangani kasus pasien kelainan jiwa yang memotong penis sendiri. Mungkin, kata dia, pasien mengalami ilusi sehingga yang dilihat seekor ular, makanya pasien memotong. Kejadian itu terjadi dua kali dengan pasien yang sama.
Ia menceritakan, pertama pasien memotong di arah pangkal. Kasus ini masih bisa diatasi dengan cara menyambung. “Ini bisa dilakukan karena pembuluh darah di pangkal besar,” imbuhnya. Dua bulan kemudian, pasien kembali memotong penis di bagian ujung penis. “Ini tidak bisa disambung, hanya bisa diperbaiki,” paparnya.
Ia mengenang, saat masih menjadi dokter di Jambi, banyak pengalaman lain yang tidak 
terlupakan. Contohnya, waktu itu dalam perjalanan di hutan, tiba-tiba tali gas mobil putus. dr Marta bersama istri dan anaknya yang masih berusia satu tahun melihat harimau yang lewat di depan mobilnya. “Tidak bisa diungkapkan rasanya melihat harimau berjalan di depan mobil cuma berjarak kurang dari 10 meter,” ungkapnya.
Lebih jauh dikatakannya, menjadi seorang dokter dan bergaul dengan Suku Anak Dalam (SAD) tidaklah sulit. Kunci utama untuk melayani masyarakat tetap diutamakan. Saat itu, ia berprofesi kepala puskesmas yag melayani 34 desa.
Karena kesulitan komunikasi karena medannya yang berat, dirinya memberikan handy talky (HT) kepada 34 petugas di pos masing-masing. Petugas yang di pos selanjutnya berkomunikasi untuk konsultasi keluhan yang dihadapi masyarakat desa tersebut. “Saya juga tetap mengunjungi desa-desa itu. Kalau saya datang, masyarakat memanggil dengan sebutan Raja Suntik,” katanya tertawa.
Puskemas yang dipimpinnya saat itu sudah dilengkapi dengan ruang emergency dan ruang perawatan VIP lengkap dengan peralatannya. “Karena itu, kami mendapatkan penghargaan Abdi Setia Bakti mewakili Provinsi Jambi,” terangnya seraya menambahkan, dirinya bertugas di di Jambi sekitar 9 tahun.
Masih kata pria kelahiran 1 Maret 1968 ini, ada beberapa masyarakat di sana tidak mau berobat ke puskemas. Malah, mereka memilih berkunjung ke rumah. “Dengan setia, mereka (pasien) menunggu saya pulang untuk diobati,” tuturnya.
Apalagi rumah dinasnya bersebelahan dengan puskesmas. Selain itu, dirinya juga tidak memungut bayaran kepada pasien yang berobat di rumah. Ia mengaku, tidak sulit berkomunikasi dengan pasien dari SAD. “Kalau bahasa mereka, saya ngerti sedikit-sedikit,” akunya.
Dari pengabdian ini, bungsu empat saudara ini menerima penghargaan Dokter Teladan Tingkat Provinsi Jambi dari Presiden RI pada 1996. “Waktu itu, presidennya masih Pak Soeharto,” bebernya.
Dia menambahkan, profesi dokter sangat didukung oleh keluarga. Meskipun kedua orang tua dan saudaranya tidak ada yang berprofesi sebagai dokter. Waktu kecil, ada tiga pilihan cita-cita, yakni insinyur, dokter, dan wakil presiden. “Kenapa pilih wakil, soalnya kalau presiden ketinggian. Namun, nasib menjadikan saya sebagai dokter,” pungkasnya sembari tersenyum. (*/ce1)
- See more at: http://www.sumeks.co.id/index.php/sumeks/23460-sembilan-tahun-obati-suku-kubu-dipanggil-raja-suntik#sthash.u41mw2iD.dpuf

Kamis, 03 November 2016

Pengumumman Penerimaan Pegawai

Add caption

Add caption



Add caption

RSMH “KEBAKARAN”



 RSMH “KEBAKARAN”
 
Suasana RSMH yang biasa lengang, mendadak ramai. Sebagian perawat menyelamatkan pasien dengan menggunaka kursi roda maupun brancard, yang lain membawa dokumen penting dan peralatan medis dengan memakai topi berwarna merah, biru, putih dan kuning. Ada yang berteriak red code..red code...sirine pun terdengar, tak lama datang mobil pemadam kebakaran dan memadamkan api yang terdapat di lantai 4 ruang Selincah. Petugas tampak sigap memadamkan api, tak lama api pun padam. Pasien, perawat dan yang lainnya tampak berkumpul di titik kumpul yang berada di area tower air.
Rupanya siang itu ada kegiatan simulasi Penanggulangan kebakaran di RSMH. Ka.Instalasi IPSNM Sudarto,ST,MSi mengatakan kegiatan simulasi penanggulangan kebakaran ini bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan  Pemadam Kebakaran Kota Palembang. Tujuan diadakan simulasi ini adalah untuk melatih petugas dalam mengevakuasi pasien, alat medis, dokumen dan juga memadamkan api.
Kegiatan simulasi penanggulangan kebakaran ini  merupakan salah satu program pemantapan menuju inisial survey akreditasi JCI tidak hanya dalam bentuk program namun juga bagaimana  implementasinya di lapangan.
Langkah pasti RSMH Palembang menuju initial survey Akreditasi JCI, sudah tinggal menghitung hari. Tanggal 28 November – 2 Desember 2016 Tim Surveyor akan datang ke RSMH dalam rangka Penilaian RSMH sebagai RS berstandar Internasional. Akreditasi Rs adalah suatu proses lembaga Independen yang melakukan assesmen terhadap rumah sakit dengan tujuan memenuhi standar yang dirancang untuk memperbaiki keselamatan dan mutu pelayanan, meningkatkan keselamatan dan kualitas asuhan pasien. Bagaimana mengimplementasikan standar-standar tersebut dalam melakukan pelayanan kesehatan, ini yang menjadi penilaian penting dalam initial survey Akreditasi JCI.
Bravo RSMH...!!
Humas#yeri