Sabtu, 14 Mei 2016

Klarifikasi Pasien


H a l.    : Klarifikasi Pasien


Kepada Yth,
Pimpinan Redaksi
Media online Merdeka.com


Sehubungan dangen pemberitaan Yang dimuat di media online 10 Mei 2016 jam 23.06 dengan  judul "Ditolak RSMH Palembang, Pasien kankerrahim Tewas Di Rumah Singgih", maka dengan ini kami  memberikan klarifikasi dan kronologis sbb :
1. Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan pengawasan langsung oleh media dan masyarakat terhadap pelayanan di RSMH Palembang yang dapat kami jadikan sebagai kontrol untuk selalumemberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.
2. Pasien Ny Mardiah 53 tahun adalah pasien lama di poli rawat jalan  RSMH yang di rawat bersama oleh spesialis Obgin, spesialis Bedah Vaskuler dan Spesialis Penyakit Dalam sejak  Maret 2016.
3. Tanggal 10 Mei 2016 jam 21.05 pasien dibawa ke IGD RSMH karena sesak  napas dan perut membesar. Pasien langsung diteriima  oleh dokter Jaga triase dan selanjutnya diserahkan ke dokter Jaga on site spesialis obstetri dan ginekologi di ruang P2 IGD. Pasien di berikan Oksigen, dilakukan  pemeriksaan tanda vital, pasien diambil darah untuk pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan rekam jantung (EKG). Pasien tetap di observasi di ruang P2 IGD untuk mengatasi kegawatannya (sesak  napas). Pasien tersebut tetap dan langsung  dilayani di IGD RSMH walaupun belum membawa surat rujukan. Hal ini sesuai dengan SOP di IGD RSMH bahwa pasien yang datang di IGD harus ditangani lebih dulu  baru diselesaikan administrasinya. Jadi tidak benar pasien ditolak dilayani di IGD karena tidak membawa syarat administrasi (Surat rujukan). Setelah itu keluarga diminta mengurus surat rujukan agar pasien mendapat jaminan pengobatan dan perawatan selanjutnya.
4. Setelah diobservasi dan berdasarkan hasil pemeriksaan di IGD, oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) yang bertugas di IGD, pasien dinyatakan tidak indikasi rawat inap dan disarankan kontrol ke poliklinik rawat jalan RSMH. Sambil menunggu keluarga mengurus surat rujukan dan kelengkapan persyaratan untuk rawat jalan, pasien tetap berada di IGD RSMH sampai jam 11 tanggal 11 Mei 2016.
5. Karena masih menunggu keluarga yang mengurus rujukan dan persyaratan di Kabupaten Kayu Agung, maka pasien di sarankan menunggu di Rumah Singgah yang lokasinya berdekatan dengan IGD dalam kompleks RSMH. Pasien diantar oleh petugas RSMH bersama keluarga yang lain ke Rumah Singgah sekitar jam 11. 
6. Tanggal 11 Mei 2016 sekitar jam 19.05 pasien di laporkan oleh keluarga meninggal.
Demikian klarifikasi dari kami, sesuai dengan yang diatur dalam UU Pers, kami mohon media saudara untuk memuat hak jawab kami ini dalam waktu sesegera mungkin. Dengan demikian masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan seimbang. 
Atas kerjasama dan dimuatnya klarifikasi ini kami sampaikan terima kasih

Palembang, 15 Mei 2016
Direktur Medik dan Keperawatan RSMH 

DR. Dr. ALsen Arlan, SpBD (K)

Kamis, 05 Mei 2016

Profersor Rusdi Ismail



Profersor Rusdi Ismail


Profersor Rusdi Ismail menceritakan kisahnya hingga ia menjadi seorang Guru Besar. Dilahairkan di Tanjung Limau,Sumatera Barat. Ia adalah anak seorang kyai pengasuh sebuah pondok pesantren. Lingkuangan pesantren yang lekat denganya dari kecil ternyata malah membawanya menjadi seorang dokter. Ayahnya memasukan ia di sekolah umum, dinilai sebagai anak yang cerdas, Rusdi kecil langsung masuk kelas akselerasi. Tamat sekolah menengah atas ia berteolak ke Jakarta. Mengikuti tes masuk Universitas Indonesia dengan memilih jurusan Kedokteran dan ekonomi, ia berhasil diterima di kedua jurusan. Bayangan menjadi seorang dokter adalah sebuah kebanggaan, hingga ia tak lagi berfikir panjang untuk memilih fakultas kedokteran. "Padahal kalau difikir lagi, jadi ekonom lebih kaya," ujar Profesor Rusdi sambil tertawaSetalah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ia kemudian menjadi staf  pengajar di almamatenya itu. Hingga pada tahun 1968 sebelum penentuan pendapat rakyat Irian Barat atau yang disebut dengan PEPERA, pemerintah mengirimkan 4 dokter spesialis, salah satunya adalah spesialis anak. Kebetulan saat itu Profesor Rusdi adalah seorang dokter spesialis anak.

Kondisi Irian Barat yang saat itu masih konflik membuat para dokter enggan untuk pergi ke Irian Barat.Profesor Rusdi mengaku setengah dipaksa oleh atasanya di Universitas Indonesia, walaupun ia juga tidak keberatan dengan hal itu. Hingga akhirnya pada juni 1969 ia berangkat ke Irian. Ia mengaku senang selama di sana, Meskipun tidak membuka praktek dan tidak punya penghasilan lebih karena saat itu semua pelayanan kesehatan gratis. Hal ini juga sebagai upaya dalam memenagkan PEPERA oleh pemerintah Indonesia. Beberapa waktu kemudian ia menjadi diektur rumah sakit Provinsi Irian Barat.

Sebelumnya ia bersama dengan 3 dokter spesialis lain yang sedang bertugas di Irian Barat ditawari oleh pemerintah Indonesia. "ingin menjadi direktur rumah sakit atau menjadi anggota DPR." Kata profesor yang memiliki 3 orang anak ini. Kala itu dengan mantap ia memilih sebagai direktur rumah sakit karena ia mengaku sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik. "Dengan begini kan saya punya riwayat hidup sebagai direktur Rumah Sakit Provinsi."kata Profesor Rusdi dengan nada bercanda. Selang 3 tahun kemudian ia pindah ke RSMH Palembang. Sebagai relawan PEPERA ia mendapat kebebasan untuk memilih dimana ia akan ditempatkan selanjutnya. Ia memiliki pilihan untuk kembali mengajar di Universitas Indonesia. Mempertimbangkan tempat tinggal ia meminta kepada atasanya. "Saya mau ditempatkan dimana saja asal ada rumah yang bisa saya tinggali." Karena pada saat itu profesor rusdi belum memiliki rumah. Ia kemudian diberi tawaran berbagai pilihan tempat namun kemudian ia memilih RSMH Palembang karena merupakan rumah sakit pendidikan fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Dengan begitu minatnya sebagai pengajar masih dapat tersalurkan karena di rumah sakit pendidikan seorang dokter juga sekaligus sebagai seorang pengajar.


Palembang juga tergolong dekat dengan tempat asalnya, sehingga ia sudah mengenal kulturnya dengan sangat baik. Tahun 1972 saat ia datang di Palembang, statusnya masih menjadi pegawai departemen kesehatan, meski sebagai pegawai departeman kesehatan ia masih mengajar karena status RSMH Palembang sebagai Rumah sakit pendidikan. Baru setelah 10 tahun di RSMH Pelembang ia kemudian menjadi pegawai dinas pendidikan. Setelah itu ia juga sempat menjadi Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Hingga ia mendapatkan gelar Pofesor dan dikukuhkan menjadi Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan pensiun pada tahun 2009 lalu. Minatnya menjadi seorang sebagai pengajar diwarisi oleh sang ayah. Sejak kecil

Profesor Rusdi tidak pernah secara formal menjadi seorang santri namun sang ayah selalu mengajarkan berbagai hal layaknya sorang santri. Profesor Rusdi bercerita suatu ketika ia bertengkar dengan temanya hingga temanya gontai berlumur darah karena dilempar batu olehnya. Mengetahui hal itu sang ayah lalu memberinya pelajaran, sambil dipukuli dengan ikat pinggang sang ayah menasehatinya dengan hadis. Hal itulah yang paling teringat dalam benak Profesor Rusdi. Saat ditanya pengalamanya selama menjadi dokter di RSMH, ia menceritakan kisahnya saat menangani pasien anak yang ia beri salah obat. Efek kesalahan obat kemudian membuat anak seketika menjadi lemas, orang tua sang anak lalu panik saat itu juga. Profesor Rusdi sempat diancam akan ditusuk oleh orang tua pasien. "Saya sudah hafal karakter orang Palembang, saat itu saya bisa tangai." Ia mencoba menenangkan orang tua pasien. "Mari pak saya antar ke rumah sakit, supaya bapak tidak ragu-ragu nanti akan langsung ditangani dokter spesialis yang lain." kata Professor Rusdi saat berbicara dengan orang tua pasien yang penuh amarah seketika tenang. Baginya pengalaman puluhan tahun menjadi dokter bukan tanpa resiko ia ingat betul saat ada pasien yang meninggal akibat salah penanganan darinya."waktu itu setiap hari ada 30 pasien yang harus saya tangani. Kalau ada salah penanganan akibat saya itu merupakan resiko," begitu Profesor Rusdi beralasan.



Suhaimi Humas (doc. RSMH magazine )



Senin, 21 Desember 2015

Upacara Dalam Rangka Hari Ibu dan HUT RSMH ke-59 thn



Upacara  Dalam Rangka Hari Ibu dan HUT RSMH ke-59 thn
Dalam rangka hari Ibu, RSMH melaksanakan Upacara bendera pada hari Selasa 22 Desember 2015 ,pukul 07.00 Wib sd.Selesai bertempat di Halaman Parkir Graha Spesialis. Upacara bendera  yang biasanya dilaksanakan setiap tanggal 17 setiap bulan, yang tidak biasa petugas upacara pada hari ini kesemuanya ibu-ibu pejabat Struktural dan Fungsional sedangkan bertindak sebagai  Inspektur Upacara pada hari ini adalah  Ketua Bidang Pelayanan Medik Dr.Msy.Rita Dewi,Sp.A (K).
Upacara  dihadiri oleh Direktur Utama RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang beserta jajaran, Pejabat Struktural dan Fungsional,  serta karyawan dan karyawati RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang.
Dr.Msy.Rita Dewi,Sp.A (K) dalam kata sambutannya mengatakan bahwa peran wanita  sekarang bisa disejajarkan dengan laki-laki, peranan seorang ibu dalam rumahtangga maupun ditengah masyarakat  sangatlah penting.Tanggungjawab seorang ibu dihadapkan pada berbagai masalah, berbagai tantangan dan segala persoalan. Selama 9 bulan seorang ibu mengandung dan membesarkan sang anak tanpa kenal lelah dan penuh kesabaran , untuk itulah maka pada hari ini diperingati sebagi hari Ibu untuk mengenang jasa-jasa seorang ibu.
Selesai upacara dilaksanakan acara pengambilan sumpah Pegawai Negeri Sipil bagi karyawan dan karyawati  di lingkungan RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang sesuai dengan agama yang dianut, yaitu agama islam, Protestan, Katolik, Hindu dan Budha.
Dalam kata sambutannya Dr.Mohammad Syahril,Sp.P,MPH mengatakan tiga poin penting yang harus digarisbawahi, pertama dalam rangka menuju Akreditasi JCI  Rumah Sakit berstandar internasional diminta kepada semua pihak bekerjasama baik pegawai PNS , Non PNS , maupun pegawai kontrak untuk memberikan perhatian dan concern serta lebih  mempersiapkan diri menuju Akreditasi Internasional,poin  Kedua kepada Pimpinan dan Manajemen untuk lebih mensosialisasikan Visi, Misi , Tata Nilai, Budaya, Prilaku Utama selama menjadi pegawai RSMH untuk selalu menerapkan budaya dalam kehidupan sehari-hari   dan yang ketiga adalah penanaman pohon dalam rangka peningkatan bulan menanam pohon nasional dan juga masih dalam rangkaian kegiatan  HUT RSMH ke-59 tahun.

Beranjak dari halaman Graha Spesialis tempat dilaksanakannya Upacara Bendera segenap Pimpinan Direksi dan Manajemen menuju lokasi penanaman pohon yang terletak di depan Instalasi Gawat Darurat. Adapun pohon yang ditanam meliputi Pohon Tabebuya, Wali Songo, Palem Ekor Kuda, Ketapang Kencana, Mahoni dan Pohon Salam. RSMH  telah siap menjadi Rumah Sakit Green Hospital, dengan menambah ruang terbuka hijau diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas udara selain itu agar tercipta kawasan rumah sakit yang bebas asap rokok!
Bravoo..RSMH..!!!
 Humas@Yeri...









Minggu, 20 Desember 2015

RSMH Menggelar Acara Khitanan Gratis Dalam Rangka HUT ke-59








KHITANAN  GRATIS DALAM RANGKA HUT RSMH KE-59 

Halaman Instalasi Diklat pagi itu ramai dikunjungi oleh anak-anak, Minggu 20 Desember 2015 . Kedatangan anak-anak yang didampingi orangtuanya itu tidak lain untuk mengikuti khitanan massal gratis. Khitanan massal digelar dalam rangka memperingati HUT RSMH yang ke-59.
Para peserta khitanan berasal dari keluarga pegawai dan masyarakat sekitar sebanyak  100  anak. Anak-anak tersebut ditangani oleh tenaga medis dan para medis  yang handal dan terpercaya. Raut wajah antusias dan bersemangat terpancar di wajah mungil mereka seraya tak sabar menanti nomor urut mereka dipanggil panitia untuk memasuki ruang khitan. Selain tidak dipungut biaya peserta khitanan massal mendapatkan bingkisan berupa sarung, peci, uang saku  serta snack.
 Kerjasama antara DWP RSMH dengan RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang. Hadir dalam acara tersebut Direktur Utama RSUP Dr.Mohammad Hoesin Palembang beserta jajaran, Ibu Ketua dan pengurus Dharma Wanita Persatuan RSMH, Pejabat Struktural dan Fungsional, dan tak lupa panitia khitanan baik dari tim Medis maupun para medis.
Dr.Mohammad Syahril,Sp.P,MPH dalam kata sambutannya mengatakan bahwa kegiatan sosial  khitanan massal ini adalah rangkaian peringatan HUT RSMH ke-59  dan bentuk dari kepedulian serta pengabdian RSMH  kepada para pegawai  dan masyarakat sekitar.” Katanya.
Ketua Dharma Wanita Persatuan RSMH Dr.Fatinah Tsuraya,M.Kes mengatakan ,”Bahwa khitan adalah sunah Rasulullah SAW, dan jalan menuju hidup sehat. Resiko penyakit kanker alat kelamin jika tidak di sunat, dan agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan menjalankan pola hidup sehat. Khitanan massal ini sangat membantu, dan dengan acara ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi masyarakat yang kurang beruntung,” ujar istri orang nomor satu di RSMH.
Ketua Tim Medis acara Khitanan ini Dr.Marta Hendri,Sp.U mengatakan Khitan  menurut bahasa berarti memotong atau mengkhitan, sedangkan menurut istilah khitan adalah memotong kulup (ujung kulit kelamin laki-laki) yang menutupi zakar. Bertujuan agar mudah ketika membersihkan kotoran dari sisa air seni yang menempel pada kulit dalam tersebut.
Menurut dr.Marta , ujung kelamin dapat menghimpun berbagai penyakit. Untuk menghindarkannya alat kelamin perlu dikhitan, melalui khitan selain dapat mensucikan diri dari najis juga menghindarkan diri dari penyakit.
Dr.Marta dan tim, sukses melakukan khitan terhadap 100 orang anak yang telah mendaftar sebagai peserta khitan gratis di RSMH Palembang, dengan kegiatan sosial ini diharapkan akan terus berlanjut dengan kegiatan-kegiatan yang lain yang tentunya  bermanfaat.

Bravo RSMH...!!!
Humas@Yeri + Rita